OPINI: Ole Gunnar Solskjaer, Candu yang Mengembalikan Gairah Fans Manchester United

0 158

Jujur saja, semenjak pramusim 2018/19 dimulai dengan keluhan tanpa henti yang diocehkan oleh Jose Mourinho mulai dari: minimnya skuat untuk diajak berlatih, minim bantuan transfer dari jajaran direksi, hingga omongan sinisnya di depan publik, fans Manchester United sudah dibawa ke dalam satu ruang besar bernama ‘Ruang Negatif’.

Dikatakan demikian karena ruangan itu berisikan nada-nada pesimistis, keluhan, penyampaian unek-unek yang konstan, dan banyak hal lainnya yang negatif. Sebenarnya semua hal itu tidaklah aneh jika berbicara mengenai Mourinho.

Aitor Karanka, mantan kaki tangan Mourinho, pernah berkata bahwa semua pemain yang berada di bawah asuhan Mourinho seharusnya bersiap menerima kenyataan yang brutal. Ucapan Mourinho seringkali terkesan sinis atau pesimis, tapi dia hanya menyampaikan kenyataan yang memang benar bisa dilihat semua orang.

Akan tetapi hal itu tidak berlaku untuk Man United. Usai membawa tim menjuarai League Cup dan Europa League di musim pertamanya melatih Setan Merah, lalu di musim kedua dengan kebanggaannya finish sebagai runner-up di bawah Manchester City, fans sudah mulai jenuh dengan ucapan negatif Mourinho.

Perang yang dibawanya sendiri ke dalam skuat dengan berusaha ‘mendidik’ Paul Pogba, kritikan kepada manajemen, menjadi senjata makan tuan bagi The Special One. Man United kesulitan tampil bagus saat bertanding – cenderung malas dilatih Mourinho – dan inkonsistensi performa berlanjut.

Klimaksnya, kekalahan 1-3 saat melawan Liverpool di Anfield pada Desember lalu, mengakhiri perjalanan dua tahun setengah Mourinho dengan Man United. Hanya beberapa pemain yang mengucapkan terima kasih atas kontribusi manajer asal Portugal tersebut.

“Manchester United punya masa depan tanpa saya dan saya pun memiliki hal yang sama tanpa mereka. Semua sudah berakhir,” ucap Mourinho, dikutip dari Sky Sports.

“Saya selalu mengkritik manajer di klub lain jika mereka berbicara tentang peristiwa seperti ini dan menyinggung tentang siapa yang harus disalahkan.”

“Hal tersebut tak mencerminkan diri saya. Saya ingin semua berakhir dan hal tersebut sudah terjadi pada masa lalu,” tambah Mourinho beberapa hari setelah dipecat United.

Selang dua waktu dari pemecatan Mourinho, beberapa nama naik ke permukaan mulai Mauricio Pochettino, Zinedine Zidane, Laurent Blanc, hingga yang paling unik … Arsene Wenger. Tapi pada akhirnya manajemen Man United berpikir out of the box (anti-mainstream), dengan menunjuk Ole Gunnar Solskjaer sebagai manajer interim.

Ole Gunnar Solskjaer Datang Kembali sebagai ‘Supersub’

Penunjukkan Solskjaer tidak disangka sebelumnya. Sebab, pelatih asal Norwegia itu masih berstatus pelatih Molde saat Man United menunjukknya sebagai manajer interim. Solskjaer dikontrak hingga akhir musim dengan hanya diberikan satu misi besar: membangkitkan gairah dan performa Manchester United.

Uniknya, Solskjaer dipinjam dari Molde, bukan sebagai pelatih yang benar-benar meninggalkan klubnya. Klub sekaliber United meminjam pelatih dengan status pinjaman., cukup unik. Biasanya hanya pemain-pemain yang punya status itu.

Solskjaer, legenda Man United pada periode 1996-2007, datang dengan hanya modal pengalaman melatih Molde dan diberi tugas mengangkat performa Man United yang sedang jatuh akibat Jose Mourinho.

Akan tapi, semua itu tidak menyurutkan semangat Solskjaer. Langkah pertama Solskjaer ketika kembali ke Old Trafford pun terbilang jitu. Dia menunjuk Mike Phelan sebagai asisten pelatih bersama Michael Carrick. Tidak ada yang mengenal Man United lebih baik dari Phelan, eks tangan kanan Sir Alex Ferguson.

Diawali dari kemenangan meyakinkan 5-1 Man United atas Cardiff City di Premier League, Solskjaer terus mengangkat performa United dengan mengembalikan identitas bermain klub: bermain ofensif, penuh determinasi, menghibur penonton, dan tidak pernah menyerah. Bayang-bayang Ferguson seolah berada di area teknis seakan dilihat fans United di seluruh dunia.

Solskjaer tidak sempurna karena kekurangannya dari segi pengalaman melatih bisa dilihat ketika United kalah 0-2 dari PSG. Solskjaer tidak tahu harus berbuat apa ketika Paul Pogba dimatikan oleh Marquinhos dan Marco Verratti. Akan tetapi, fans Man United sudah cukup yakin dia layak jadi manajer tetap.

Belum pernah sebelumnya, setelah Ferguson pensiun di tahun 2013, fans memiliki keyakinan sebesar saat ini akan manajer yang mereka cintai. David Moyes, Louis van Gaal, dan Mourinho terbilang gagal, meski Van Gaal-Mourinho mempersembahkan trofi.

Solskjaer belum pernah meraih trofi sebagai manajer United, tapi kelak, cepat atau lambat, jika dia terus diberi kepercayaan membentuk skuat United dengan kebebasan seperti Ferguson, mungkin saja fans United akan kembali melihat kejayaan ala era Ferguson.

Solskjaer dahulu dikenal sebagai supersub: masuk dari bangku cadangan dan mencetak gol krusial bagi Manchester Merah. Status itu berlanjut untuk Baby Face Assassin saat ini: datang menggantikan Mourinho, Solskjaer mengangkat permainan Man United, mengembalikan senyuman fans dan pemain, serta menyebarkan aura positif di ruang ganti pemain.

16 laga telah dilalui di seluruh kompetisi. Man United sekali kalah, dua kali imbang, dan 13 kali menang – belum pernah kalah di Premier League pada era Solskjaer.

Dalam kurun waktu dua bulan setengah, Solskjaer membangkitkan gairah fans United, yang mungkin tadinya malas menonton United pasca kalah dari Liverpool Desember silam.

“Saya ingin melihat Ole Gunnar Solskjaer dipertahankan sebagai manajer permanen dengan staf kepelatihan berpengalaman (Phelan). Aura positif yang diberikannya kepada pemain adalah bukti, dengan tim bermain tersenyum dan sudah jelas hasrat bekerja keras,” ucap Gareth Kitchen, pemegang tiket musiman Man United, diberitakan Guardian.

“Saya sangat ingin melihat manajer diberi waktu. Saya ingin manajer baru membangun masa depan, menargetkan titel Premier League selama tiga atau empat tahun, mengembangkan bakat-bakat pesepakbola muda, dan terus mengorbitkan pemain dari akademi.”

Menilik perjalanan Solskjaer sejauh ini sebagai manajer interim Man United, dia sudah layak jadi manajer permanen United untuk meneruskan tradisi dari Alex Ferguson. Sebagian besar fans Man United mungkin juga sependapat agar Solskjaer diberi kesempatan lebih lama menangani klub, ketimbang kembali berjudi merekrut Mauricio Pochettino atau Zinedine Zidane.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.